Tuesday, August 26, 2014

Untitled

Badannya sempoyongan, matanya terlihat mengantuk, dengan langkah berat dia pulang kerumah. Gema suara adzan shubuh mnegiringi perjalanannya pulang kerumah, terlihat umat muslim dikampungnya berangkat ke masjid untuk menuanaikan ibadah sholat berjamaah. Pemuda dengan pakaian kusut itu sampai di pintu rumah, pintu rumah masih dikunci. Dia mengetuk pelan pintu rumah, memanggil penghuni rumah dengan suara merintih. “Ibu, tolong bukain pintunya. Ayah, sudah shubuh. Waktunya sholat berjamaah di masjid”. “iya, tunggu sebentar nak” terdengar suara kecil dari seorang perempuan membalas. Tak lama kemudian, sesosok perempuan membukakan pintu. “Ipank, dari mana kamu nak? Jangan terlalu sering begadang, tidak baik untuk kesehatan”. Tanya sang ibu terhadap anaknya ketika membukakan pintu. “nongkrong di warung biasanya bu,” Ipank langsung masuk kerumah dan menuju kamar. dia merebahkan tubuhnya di atas tikar, menggunakan tanganya sebagai bantal. Rasa kantuk yang teramat sangat membuatya ingin cepat menuju alam mimpi, belum sempat ia memejamkan mata, terlihat sanga ayah berdiri di pintu kamar. “Ipank, Sholat dulu nak. Setelah itu tidur lagi”. Ipank tidak menjawab, dia hanya diam dan memejamkan mata. Ayahnya pun berlalu menuju masjid untuk menunaikan sholat berjamaah. *** “bangun sayang, sudah pagi. Feri Nanti terlambat kuliah lo”. Ucap sorang ibu membangunkan anaknya yang sedang tertidur, feri kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk sejenak untuk menghilangkan rasa kantuk. “uang jajannya ibu taruh diatas meja computer, ayah dan ibu beragkat kerja dulu” ibu tersebut mengecup kening anaknya, dan meninggalkan tempat untuk berangkat bekerja di pabrik. Melihat ayah dan ibunya berangkat kerja, serta adiknya berangkat sekolah. Feri bergegas mandi, ganti pakaian dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Diambilnya tiga lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, uang jajan yang sekaligus sebagai ganti untuk mencari sarapan diluar rumah karena ibu nya tidak sempat memasak karena terlebih dahulu harus berangkat kerja. *** Ipank tersadar dari tidur lelapnya, dia melihat cahaya matahari masuk melalui celah pada genteng atap rumahnya, pertanda hari sudah pagi. Dia langsung bangkit dan menuju ruang tamu untuk melihat jam dinding yang tertempel di tembok ruang tamu, terlihat jarum jam menunjuk ke angka Sembilan. Ipank langsung bergegas cuci muka, dengan pakaian yang masih sama ketika ia kenakan waktu tiduran tadi, dia buru-buru menuju sawah menemui kedua orang tuanya yang seorang petani. Dia parkir sepeda motor butunya di pematang sawah, tanpa mematikan mesin motor yang masih menyala dia langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di gubuk sawah. “Aku berangkat kuliah dulu bu, yah, assalamu’alaikum”, ucapnya sambil menundukkan kepala dan mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Meski terkadang ia tidak menghiraukan nasehat dari orang tuanya, dibalik penampilan urakannya, terkadang dalam waktu tertentu Ipank masih terlihat berperilaku santun terhadap keluarganya. Sejak masih sekolah, ritual mencium tangan orang tua sebelum pamit berangkat dilakukan Ipank dan terus berlanjut hingga ia kuliah. Ia tidak pernah menyepelekan hal ini, karena ia menganggap ucapan orang tua adalah do’a. “iya, hati-hati. Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” Usai berpamitan ia langsung berangkat menuju kampusnya yang terletak di pusat kota, ia harus menempuh 30 menit perjalanan normal untuk sampai di kampus. *** Sampai dia memasuki gerbang kampus, belum sempat ia memarkir sepeda motornya, terdengar suara perempuan memanggil namanya, suara yang tak asing ditelinganya, dia menoleh menuju sumber suara tersebut keluar. Terlihat perempuan berjilbab berdiri di depan perpustakaan tak jauh dari tempat dia mau memarkir motor, tangannya melambai memberi isyarat agar Ipank mendekatinya. Ipank mengangguk, usai memarkir ia langsung menghampiri perempuan yang bernama Nisa tersebut. Nisa adalah teman sekelas Ipank, perempuan yang selalu hadir dalam bayang mimpinya, sosok perempuan idaman yang membuatnya semangat kuliah. “tadi dosennya tidak masuk. Sebagai gantinya ada tugas membuat makalah dengan tema Hukum Lingkungan dan harus dikumpulkan besok pagi” ucap Nisa sambil menyodorkan tangan untuk berjabat dan menyambut kedatangan Ipank. “buruan pinjam buku di perpus buat referensi, mumpung masih ada stok. Soalnya tadi aku lihat Cuma ada sedikit buku hukum lingkungan” Tanpa menjawab Ipank masuk perpus untk mencari buku, sedangkan Nisa menunggunya diluar sambil membaca buku yang baru saja di pinjam di perpus. Tak lama Ipank didalm perpus, dia mengambil dan sebuah buku dan ditunjukkan ke petugas perpus untuk dicatat. “Muhammad Irfan, Fakultas Hukum Semester V, buku yang lama yang sudah dipinjam kemarin dikembalikan dulu kalau mau minjam buku lagi”. Ucap petugas perpus menjelaskan. “saya minta tolong bu, buku ini buat referensi membuat makalah yang harus dikumpulkan besok pagi.” “maaf mas, saya hanya menjalankan peraturan. Kalau mas mau mengambil buku dulu dirumah, saya tunggu disini”. “tidak bu, terima kasih” ucap Ipank sambil menaruh kembali buku yang diambilnya tadi ditempat semula. Dia keluar perpus dan menghampiri Nisa, Nisa yang ternyata diluar tadi mendengarkan pembicaraan Ipank dan petugas perpus, menyodorkan buku yang ia pinjam untuk dipakai Ipank. “ini kamu bawa saja, kamu lebih membutuhkan kayaknya. Aku dirumah ada referensi buku lain, tapi ingat, setelah selesai langsung balikin, kalo sampai telat mengembalikan nanti aku yang kena tegur petugas perpus”. Ipank hanya diam, dalam hatinya ia malu, selama ini ia merasa Nisa sudah terlalu banyak berbuat baik padanya, namun Ipank masih belum pernah bisa membalas kebaikan dan perhatian yang diberikan Nisa. “woy, kok diam? Gimana, kamu bawa atau tidak?” ucap Nisa membuyarkan lamunan Ipank “iya, buku ini aku pinjam” jawab Ipank secara spontan, mereka berdua terdiam, saling bertatap mata. Kata-kata itu sering keluar dari mulut Ipank ketika dia memainkan gitar dan menyanyikan tembang milik Iwan Fals, Buku ini aku Pinjam. Nisa menunduk, Ipank tersenyum, “aku ke warung depan dulu ya, mau nyari Feri. Buat pinjam laptop agar makalah ini bisa cepat selesai” “iya, aku pamit dulu pank. Assalamu’alaikum” “wa’alaikum salam”. *** Ipank berjalan keluar kampus, menuju warung yang sering dibuat nongkrong Feri, teman sejak SD, satu kampung, dan sekarang satu kampus meski beda jurusan. Didepan warung terlihat sepeda motor Feri di parkir, Ipank semakin yakin kalau Feri berada di warung tersebut. Dia terlihat duduk memgang stik billiard, menunggu gilirian menyodok bola. Duduk tepat disamping cewek cantik sang penjaga warung, seskali dia terlihat genit menggoda sang penjaga warung. Ipank pun langsung menghampiri feri, dan mebicarakan maksud kedatangannya. Tanpa basa-basi, Feri memberikan tasnya yang berisi laptop lengkap dengan modem nya. dia sebenarnya ingin sekali bertahan dan memesan kopi, Namun Ipank beranggapan bahwa warung yang dijaga cewek cantik itu cita rasa kopinya tidak enak, karena yang dijual sebenarnya bukan murni rasa dalam kopi yang disajikan, tetapi ada pelayanan lain yang akhirnya warung tersebut ramai dikunjungi. Ipank berlalu menuju tempat lain untuk mengerjakan makalah, dia menuju warung kopi langganannya. Warung kopi yang dia anggap mempunyai rasa yang khas, kental, dan teman yang pas untuk menemaninya mngerjakan makalah. “Jangan bergerak! Tempat ini sudah dikepung” Terdengar suara polisi sedang melakukan penggerebekan, Ipank tersentak kaget, ia bernajka dari tempat duduknya, ia melihat mobil polisi di depan warung tempatFeri berada. Feri dan rekan-rekannya main billiard tadi, termasuk cewek cantik penjaga warung, digiring oleh beberapa personil polisi dan di angkut ke mobil. Feri terlihat menunduk, malu, ketika Ipank berjalan menghampirinya. “pank, kamu boleh ambil laptop itu. Tapi tolong, jaga rahasia ini” ucap Feri dengan nada memohon. Belum sempat ia mngerti peristiwa apa yang sebenarnya terjadi, mobil polisi tersebut sudah melaju. *** Ipank menyendiri di kamar, dia masih terpikir kejadian tadi siang yang menimpa Feri. Teman masa kecilnya, kini sedang berurusan dengan penegak Hukum. Ia ingin membantu feri, karena selama ini Ipank selalu meinjam laptop kepada Feri untuk mengerjakan tugas kuliah. Ini adalah momentum yang tepat, Ipank mahasiswa Hukum, Ipank ingin membalas budi kebaikan Feri selama ini. “Ipank, ayo makan sama-sama nak” panggil ibunya mengajak Ipank untuk bergabung. “Iya bu,” Ipank duduk di sebelah Ibunya, mereka makan bersama. Terlihat keakraban dalam suasana obrolan meja makan keluarga, Ayah, Ibu, Ipank (Anak pertama), dan adik perempuannya yang masih kelas 3 SMP. Ada kebiasaan dalam keluarga Ipank ketika Selesai makan, kedua orang tuanya selalu menyempatkan memberi nasehat kepada Ipank dan adiknya. “Ipank, selama ini Ayah dan Ibumu selalu bersabar ketika mendengar omongan yang tidak baik tentang kamu. Orang-orang diluar sana selalu bilang kalu kamu itu bukan sosok calon sarjana yang ideal, kamu setiap malam begadang bahkan kadang tidur di warung, bangun tidur kesiangan, berangkat kuliah pakaiannya pun tidak rapi.” Ucap ayah Ipank memulai pembicaraan. Ibunya pun tidak mau kalah ikut menambahi “orang-orang itu selalu membandingkan kamu dengan Feri, teman masa kecilmu dulu yang kebetulan juga sekarang satu kampus sama kamu. Feri meskipun belum lulus, dia sudah dijamin bakal jadi staf perusahaan di BUMN tempat orang tuanya bekerja.” “orangtuamu ini memang seorang petani, yang penghasilannya tidak pasti. Ibu berharap kamu setelah lulus nanti bisa dapat pekerjaan yang layak, yang derajatnya di atas petani. Apa kamu tidak ingin menjadi pegawai BUMN, rapi, berpenghasilan tetap, dan mengangkat eknomi kelurga”. Ucapan kedua orangtuanya seakan mengingatkan memori masa kecil Ipank bersama feri, teman bermain di masa kecil yang kini menjadi sosok yang selalu menjadi pembandingnya, Ipank hanya terdiam karena disaat kedua orangtuanya memberi nasehat, secara bersamaan dia menerima sms dari Nisa, “Aku tadi dapat kabar kalau Feri sekarang di penjara, dia di grebek polisi di warung depan kampus ketika tertangkap basah berjudi dengan menggunakan media permainan billiard. Kuharap kamu baik-baik saja”. bersambung...Gresik, 10 Oktober 2013